Cara Menghitung Penanggalan Kalender

Poro sederek ingkang kinasih,

Tema kali ini mengenai kalender. Pertama-tama mari kita berkenalan dengan kalender kita yang sehari-hari kita pakai baik di rumah, di sekolah maupun di kantor :)

Kalender Gregorius dan Julius

Kalender yang kita gunakan sekarang ini, yang berdasarkan peredaran Bumi mengelilingi matahari yang disebut kalender syamsiah atau solar calendar dimulai dari sekitar tahun 45 SM. Waktu itu Julius Cæsar, kaisar Romawi memerintahkan bulan Januari dan Februari untuk diletakkan di awal tahun (sebelumnya dua bulan tersebut diletakkan di akhir tahun!). Pada saat yang bersamaan di zaman Julius Cæsar ini diperkenalkan pula sistem tahun kabisat yang setiap 4 tahun sekali bulan Februari ditambah satu hari menjadi 29 hari di tahun-tahun yang bisa dibagi 4. Itulah kenapa pada awal penerapan penanggalan syamsiah Romawi pada awalnya disebut dengan kalender Julius (Julian Calendar) dari nama Julius atau Iulius Cæsar.

Namun karena penanggalan Julius ini sangat kurang akurat, maka tahun 1582, yang seharusnya dimulainya musim semi jatuh tanggal 21 Maret ternyata sudah bergeser sekitar 10 hari yang membuat gereja Katolik Roma menemui kesulitan untuk menentukan hari Paskah. Untuk itu Paus Gregorius XIII memerintahkan ‘pemotongan’ kalender selama 10 hari yaitu pada Hari Kamis tanggal 4 Oktober 1582 yang besoknya dinobatkan menjadi hari Jumat 15 Oktober 1582. Jadi tanggal 5 Oktober hingga tanggal 14 Oktober 1582, tidak pernah ada dalam sejarah. Dan sejak itulah Kalender yang kita pakai sekarang ini dinamakan kalender Gregorius (Gregorian Calendar). Dalam kalender Gregorius ini juga diadakan perbaikan sehingga lebih akurat lagi, yaitu setiap akhir abad, tahun yang bisa dibagi dengan 100 namun yang tidak bisa dibagi 400 (seperti tahun 1800, 1900, 2100, 2200, dan sebagainya) dinyatakan BUKAN LAGI sebagai tahun kabisat walaupun tahun-tahun tersebut dapat dibagi dengan 4.

Continue reading

Peradaban Medang Kamulan

Pamuji rahayu kagem poro pinisepuh lan sederek sedoyo,

Melanjutkan artikel ‘Napak Tilas Jejak Peradaban Medang’, kini tiba saatnya kita membahas ‘Peradaban Pra Medang’ nya, yaitu Medang Kamulan :)

Pada dasarnya, peradaban pada jaman dahulu banyak terdapat disepanjang sungai dan muara (kuala), ditempat-tempat yang terdapat sumber air, seperti danau, situ, sumur, seke (mata air).

Hampir semua awal peradaban didunia dimulai disungai-sungai. Di Mesir dimulai dengan peradaban disepanjang sungai Nil, di India peradabanya dimulai disepanjang sungai Gangga, di Brazil peradaban dimulai disepanjang sungai Amazon, di Cina peradaban dimulai disepanjang sungai Hoangho, di Irak peradaban dimulai disepanjang sungai Efrat. maka Jawa peradabanya dimulai disepanjang lembah sungai Trinil atau Bengawan.

Jika kita mencoba meng-googling tentang Medang kamulan, maka hanya akan kita temui keterangan bahwa Medang kamulan adalah kerajaan mitologi yang ada hubungannya dengan legenda Ajisaka. dan lalu semua situs akan mengikuti/ mituruti pitutur mbah google ^_^… Continue reading

Zaman Kencono 1 : Era Berdirinya Kerajaan Kediri

Penemuan Situs Tondowongso pada awal tahun 2007, yang diyakini sebagai peninggalan Kerajaan Kadiri diharapkan dapat membantu memberikan lebih banyak informasi tentang kerajaan tersebut. Beberapa arca kuno peninggalan Kerajaan Kediri. Arca yang ditemukan di desa Gayam, Kediri itu tergolong langka karena untuk pertama kalinya ditemukan patung Dewa Syiwa Catur Muka atau bermuka empat.

Konon pada tahun 1041 atau 963 M Raja Airlangga memerintahkan membagi kerajaan menjadi dua bagian. Kedua kerajaan tersebut dikenal dengan Kahuripan menjadi Jenggala (Kahuripan) dan Panjalu (Kediri) yang dibatasi oleh gunung Kawi dan sungai Brantas. Adalah Jayabaya  nama seorang Raja dari kerajaan Kediri (Jawa Timur). Memerintah di sekitar tahun 1130-1160.

Kerajaan Jenggala meliputi daerah Malang dan delta sungai Brantas dengan pelabuhannya Surabaya, Rembang, dan Pasuruhan, ibu kotanya Kahuripan, sedangkan Panjalu kemudian dikenal dengan nama Kediri meliputi Kediri, Madiun, dan ibu kotanya Daha. Berdasarkan prasasti-prasasti yang ditemukan masing-masing kerajaan saling merasa berhak atas seluruh tahta Airlangga sehingga terjadilah peperangan.

images (32)

Namun begitu, pada zaman ini kesusastraan Jawa justru mengalami perkembangan yang pesat, sehingga tidak jarang dinamakan zaman keemasan atau zaman kencana. Antara lain lahirnya karya :

1) Sastra Bharatayudha

2) Kakawin Smaradahana

3) Kitab Wedhatama

4) Jangka Jayabaya

***

Continue reading

Dirgahayu HUT Kota Surabaya

Dengan perasaan tak menentu, Meng Khi (ada yang menulis, Meng Qi) pulang kembali ke negerinya. Utusan kaisar Kubilai khan ini merasa harga diri dan bangsanya seakan ditampar, dicampakkan, dihina, direndahkan dan diinjak-injak oleh Kertanegara, raja Singashari. Dengan muka penuh luka dan daun telinga terpotong, Meng Khi melaporkan kegagalan misinya di Jawa. Pesan yang dibawa Meng Khi untuk Kubilai Khan sangat jelas, Singashari menolak untuk tunduk dan patuh kepada kekaisaran Mongol ! Melihat utusannya diperlakukan dengan begitu keji oleh Kertanegara, amarah Kubilai Khan langsung memuncak. Segera dia memerintahkan ekspedisi besar-besaran untuk kembali ke pulau Jawa. Tujuan ekspedisi ini juga sangat jelas, memberi palajaran, menghukum dan menaklukkan Kertanegara ! Continue reading

Napak Tilas Jejak Kerajaan Medang

Kerajaan Medang (Mataram Kuno) adalah kerajaan penakluk nusantara jilid II, tahap kedua, setelah Kerajaan Sriwijaya, tahap pertama, jilid I dan kemudian menyusul si bontot Kerajaan Majapahit, tahap ketiga, Jilid III. 

Dari catatan sejarah dan bukti arkeologi, Nusantara telah berhasil menyemai peradabannya di seluruh kawasan Asia Tenggara, antara lain: Semenanjung Malaya, Tumasik (Singapore), Siam (Thailand), Kamboja, Khmer (Vietnam) dan Filipina, hingga ke Madagaskar (Afrika). Masa pemerintahan kerajaan Sriwijaya berperan dalam membuka jalur perdagangan untuk China dan India, sementara kerajaan Medang (Mataram) dan Majapahit memegang peranan penting dalam menoreh perjalanan peradaban, hingga ‘Nusantara’ dikenal tidak hanya sekelumit dalam negri melainkan hingga ke lintas Manca. Continue reading

Indonesia VS Nusantara

Sederek sedoyo,

Apa yang ada di benak kita jika nantinya nama Republik Indonesia diganti dengan Nusantara? :)

Adalah Bapak Arkand Bodhana Zeshaprajna seorang ahli dalam ilmu metafisika yang dengan telaten meneliti relevansi antara nama dan nasib seseorang bahkan suatu negara sekalipun!

Beliau mengemukakan bahwa nama Nusantara lebih baik ketimbang nama Indonesia bukannya tanpa alasan, melainkan di analisa dari struktur value dan sincronity huruf yang logis, dimana dalam sebuah nama itu terdapat energi, jika parameter-parameter valuenya jeblok maka akan menjadi energi buruk juga di dalamnya. Continue reading

Kisah Ratu Shima & Amnesty Universal

Amnesty Internasional mendesak Indonesia untuk menghentikan eksekusi mati, karena jika hukuman mati ini masih tetap di laksanakan, maka ini akan menjadi kemunduran besar dalam urusan hukum di Indonesia.

“Perkembangan-perkembangan terkait hukuman mati juga melemahkan peran positif yang telah dimainkan Indonesia di ASEAN dalam mempromosikan penghargaan yang lebih terhadap hak asasi manusia.”

Sebanyak 68 negara (termasuk Indonesia) masih menerapkan hukuman mati, sementara 88 negara telah menghapuskan hukuman eksekusi mati lewat hukum atau secara praktik, dan 17 di antaranya dari kawasan Asia Pasifik.

Continue reading

Hidden Message Dalam Lambang Pancasila

1) LAMBANG-LAMBANG PANCASILA.

Pancasila, dasar falsafah Negara Republik Indonesia, tergambarkan dalam perisai lambang Garuda Pancasila sebagai berikut :

BINTANG :

Melambangkan sila ke

1 : Ketuhanan yang maha esa

RANTAI :

Melambangkan sila ke

2 : Kemanusiaan yang adil dan beradap

POHON BERINGIN :

Melambangkan sila ke

3 : Persatuan Indonesia

KEPALA BANTENG :

Melambangkan sila ke

4 : Kerakyatan yang dipimpin oleh khidmat kebijaksanaan dalampermusyawaratan perwakilan

PADI dan KAPAS :

Melambangkan sila ke

5 : Keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia

Continue reading

Membangun Kembali Kejayaan Masa Lalu

BANGSA YANG KEHILANGAN BUDAYANYA,

KEHILANGAN JATI DIRINYA.

DAN BANGSA YANG KEHILANGAN JATI DIRINYA, KEHILANGAN EXISTENSINYA SEBAGAI BANGSA.

  1. PENDAHULUAN.

Dari sejarah masa lampau, kita mengetahui bahwa di Nusantara ini terdapat Kerajaan Sriwijaya dalam abad ke 6 hingga abad ke 9 yang berpusat di Palembang yang menguasai sebagian besar wilayah Nusantara, dan Kerajaan Majapahit dalam abad ke 12 hingga abad ke 15 yang meliputi seluruh Nusantara,  Singapura, Malaysia, Thailand Selatan dan Philipina Selatan serta pengaruhnya sampai ke Madagaskar.

Bila kita renungkan, kita akan kagum melihat kebesaran kedua kerajaan itu yang dapat menyatukan dan menguasai wilayah yang sedekian luas, sedangkan system transportasi masih menggunakan kereta kuda dan kapal layar yang membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk mencapai daerah2 perbatasan. Belum ada system telekomunikasi modern dan pesawat terbang yang dapat menjangkau dalam beberapa jam saja.

Yang menjadi pertanyaan adalah, apa sebenarnya dapat mempersatukan wilayah yang sedemikian besar dengan berbagai macam suku bangsa dengan adat-istiadat, agama dan budaya yang berbeda-beda ? Continue reading

Siapakah Arsitek Candi Borobudur?

Jauh sebelum Angkor Wat berdiri di Kamboja dan katedral-katedral agung ada di Eropa, Candi Borobudur telah berdiri dengan gagah di tanah Jawa. Bangunan yang disebut UNESCO sebagai monumen dan kompleks stupa termegah serta terbesar di dunia ini ramai dikunjungi oleh peziarah pada pertengahan abad ke-9 hingga awal abad ke-11. Umat Buddha yang ingin mendapatkan pencerahan berduyun-duyun datang dari India, Kamboja, Tibet, dan China. Tidak hanya megah dan besar, dinding Candi Borobudur dipenuhi pahatan 2672 panel relief yang jika disusun berjajar akan mencapai panjang 6 km! Hal ini dipuji sebagai ansambel relief Buddha terbesar dan terlengkap di dunia, tak tertandingi dalam nilai seni.

Relief yang terpahat di dinding candi terbagi menjadi 4 kisah utama yakni Karmawibangga, Lalita Wistara, Jataka dan Awadana, serta Gandawyuda. Selain mengisahkan tentang perjalanan hidup Sang Buddha dan ajaran-ajarannya, relief tersebut juga merekam kemajuan masyarakat Jawa pada masa itu. Bukti bahwa nenek moyang Bangsa Indonesia adalah pelaut yang ulung dan tangguh dapat dilihat pada 10 relief kapal yang ada. Salah satu relief kapal dijadikan model dalam membuat replika kapal yang digunakan untuk mengarungi The Cinnamon Route dari Jawa hingga benua Afrika. Saat ini replika kapal tersebut disimpan di Museum Kapal Samudraraksa. Continue reading

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 38 other followers