Kisah Ratu Shima & Amnesty International

Amnesty Internasional mendesak Indonesia untuk menghentikan eksekusi mati, karena jika hukuman mati ini masih tetap di laksanakan, maka ini akan menjadi kemunduran besar dalam urusan hukum di Indonesia.

“Perkembangan-perkembangan terkait hukuman mati juga melemahkan peran positif yang telah dimainkan Indonesia di ASEAN dalam mempromosikan penghargaan yang lebih terhadap hak asasi manusia.”

Sebanyak 68 negara (termasuk Indonesia) masih menerapkan hukuman mati, sementara 88 negara telah menghapuskan hukuman eksekusi mati lewat hukum atau secara praktik, dan 17 di antaranya dari kawasan Asia Pasifik.

Continue reading

Hidden Message Dalam Lambang Pancasila

1) LAMBANG-LAMBANG PANCASILA.

Pancasila, dasar falsafah Negara Republik Indonesia, tergambarkan dalam perisai lambang Garuda Pancasila sebagai berikut :

BINTANG :

Melambangkan sila ke

1 : Ketuhanan yang maha esa

RANTAI :

Melambangkan sila ke

2 : Kemanusiaan yang adil dan beradap

POHON BERINGIN :

Melambangkan sila ke

3 : Persatuan Indonesia

KEPALA BANTENG :

Melambangkan sila ke

4 : Kerakyatan yang dipimpin oleh khidmat kebijaksanaan dalampermusyawaratan perwakilan

PADI dan KAPAS :

Melambangkan sila ke

5 : Keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia

Continue reading

Membangun Kembali Kejayaan Masa Lalu

BANGSA YANG KEHILANGAN BUDAYANYA,

KEHILANGAN JATI DIRINYA.

DAN BANGSA YANG KEHILANGAN JATI DIRINYA, KEHILANGAN EXISTENSINYA SEBAGAI BANGSA.

  1. PENDAHULUAN.

Dari sejarah masa lampau, kita mengetahui bahwa di Nusantara ini terdapat Kerajaan Sriwijaya dalam abad ke 6 hingga abad ke 9 yang berpusat di Palembang yang menguasai sebagian besar wilayah Nusantara, dan Kerajaan Majapahit dalam abad ke 12 hingga abad ke 15 yang meliputi seluruh Nusantara,  Singapura, Malaysia, Thailand Selatan dan Philipina Selatan serta pengaruhnya sampai ke Madagaskar.

Bila kita renungkan, kita akan kagum melihat kebesaran kedua kerajaan itu yang dapat menyatukan dan menguasai wilayah yang sedekian luas, sedangkan system transportasi masih menggunakan kereta kuda dan kapal layar yang membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk mencapai daerah2 perbatasan. Belum ada system telekomunikasi modern dan pesawat terbang yang dapat menjangkau dalam beberapa jam saja.

Yang menjadi pertanyaan adalah, apa sebenarnya dapat mempersatukan wilayah yang sedemikian besar dengan berbagai macam suku bangsa dengan adat-istiadat, agama dan budaya yang berbeda-beda ? Continue reading

Siapakah Arsitek Candi Borobudur?

Jauh sebelum Angkor Wat berdiri di Kamboja dan katedral-katedral agung ada di Eropa, Candi Borobudur telah berdiri dengan gagah di tanah Jawa. Bangunan yang disebut UNESCO sebagai monumen dan kompleks stupa termegah serta terbesar di dunia ini ramai dikunjungi oleh peziarah pada pertengahan abad ke-9 hingga awal abad ke-11. Umat Buddha yang ingin mendapatkan pencerahan berduyun-duyun datang dari India, Kamboja, Tibet, dan China. Tidak hanya megah dan besar, dinding Candi Borobudur dipenuhi pahatan 2672 panel relief yang jika disusun berjajar akan mencapai panjang 6 km! Hal ini dipuji sebagai ansambel relief Buddha terbesar dan terlengkap di dunia, tak tertandingi dalam nilai seni.

Relief yang terpahat di dinding candi terbagi menjadi 4 kisah utama yakni Karmawibangga, Lalita Wistara, Jataka dan Awadana, serta Gandawyuda. Selain mengisahkan tentang perjalanan hidup Sang Buddha dan ajaran-ajarannya, relief tersebut juga merekam kemajuan masyarakat Jawa pada masa itu. Bukti bahwa nenek moyang Bangsa Indonesia adalah pelaut yang ulung dan tangguh dapat dilihat pada 10 relief kapal yang ada. Salah satu relief kapal dijadikan model dalam membuat replika kapal yang digunakan untuk mengarungi The Cinnamon Route dari Jawa hingga benua Afrika. Saat ini replika kapal tersebut disimpan di Museum Kapal Samudraraksa. Continue reading

Menggali Spiritual Jawa

Ajaran yang pernah tumbuh di Jawa dan mengakar sampai hari ini, setidaknya bisa dibagi dalam tiga kategori :

1. Jawadīpa.
2. Jawa Buda.
3. Kêjawen.

1. Jawadīpa

Ajaran asli Jawa yang sampai hari ini belum kita temukan referensinya secara jelas. Namun beberapa bentuk keyakinan bisa ditemui pada keyakinan-keyakinan selanjutnya.

2. Jawa Buda (Śiwa Buddha).

Ajaran Śiwa yang sudah bercampur dengan ajaran Buddha Mahayana/ Tantrayana berikut bercampur dengan ajaran Jawadīpa. Ajaran ini mencapai puncak keemasan pada masa Majapahit.

3. Kêjawen

Ajaran Tassawuf Islam yang berbalut ajaran Jawa Buda. Muncul pasca Majapahit. kitab WIRD HIDAYAT JATI adalah pegangan bagi islam kejawen.

*** Continue reading

Demistifikasi Berbagai Bencana

Poro sederek lan sedulur yang saya kasihi, baik yang ada di pulau Jawa, Sumatra, Sulawesi dan pulau-pulau lainnya, maupun yang berada di luar Indonesia yang memiliki gunung berapi yang masih dan selalu aktive.

Sepertinya kabut hitam seolah enggan beranjak dari Bumi ibu pertiwi, Nusantara yang terkenal dengan gemah ripah loh jinawi ini ternyata juga selalu berselimut bencana dan air mata…

Melihat tayangan pemberitaan gunung berapi di berbagai media massa yang bertubi-tubi yang hanya mengabarkan sisi ‘derita’nya saja, kiranya perlu kita pertanyakan ‘kejanggalan’ pemberitaan yang tidak berimbang ini, di mana tak ada satu stasiun televisipun di Indonesia yang meliput ‘semburan’ meletusnya gunung berapi (?)… Continue reading

Estetika Rambut VS Fenomena Hijab

Luar biasa ‘euforia’ hijaber yang melanda Nusantara saat ini, mulai dari artis, pejabat hingga ibu-ibu di seluruh pelosok tanah air, tak ketinggalan pula para politisi ikut angkat bicara tentang polemik dan kontroversi perda jilbab.

Sebagai negara plural perbedaan itu tentu sudahlan sewajarnya, hanya saja jika terlalu berlebihan hingga harus ada ‘Nasionalisasi’ jilbab seperti peraturan perda dsb. maka ‘Arabisasi’ terkesan hanya memaksa untuk menggeser budaya setempat, dalam hal ini mengukur keimanan dengan cara berbusana.

Selera dalam berbusana tentulah menunjukkan masing-masing kualitas kecerdasan dan kearifan seseorang, dari yang sekedar ikutan trend hingga pemenuhan identitas diri, semua itu sah-sah saja, namun akan lebih elok jika kita tidak melupakan budaya serta bisa kembali ke selera nusantara :wink:Continue reading

Makna Nama Hewan Untuk Anak

Orang tua kita menamai kita dengan nama-nama berupa kata sifat yang indah dan terpuji, Dewa-Dewi, nama Pahlawan, Ksatria Panji, tokoh Wayang dan nama para Nabi. Baik yang berasal dari bahasa Sansekerta, Arab hingga Eropa.

Lalu bagaimana dengan orang-orang tua di Nusantara dulu menamai putra mereka? Tentunya sama dengan orang-orang tua kita masa kini, yakni dengan kata-kata terpuji, dengan nama-nama pahlawan di zamannya, nama Dewa-Dewi Hindu-Buddha (bagi yang terkena pengaruhnya), dan juga tak ketinggalan pula… nama-nama Satwa, Hewan dan Binatang. Continue reading

Mereview Sastra Jendra 4

Salah satu ilmu rahasia para Dewata mengenai kehidupan adalah Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwatingdiyu.

Sastra Jendra adalah ilmu mengenai raja agung binatara (raja yang besar kekuasaannya layaknya dewata). Hayuningrat artinya kedamaian, keselamatan, dan kesejahteraan dunia. Pangruwating adalah pembebasan atau pelepasan, artinya memuliakan atau mengubah watak dari buruk atau menjadi baik atau elok. Diyu artinya raksasa atau keburukan.

Raja disini maknanya bukan harfiah raja, melainkan sifat yang harus dimiliki seorang manusia sehingga mampu menguasai hawa nafsu dan pancaindranya dari kejahatan. Seorang raja harus mampu menolak atau mengubah keburukan menjadi kebaikan atau kebajikan. sifat memimpin dengan amanah dan mau berkorban demi kepentingan rakyat, nusa, bangsa dan negara. Oleh karenanya Sastra Jendra dimaknai sebagai ajaran kebijaksanaan dan kebajikan yang harus dimiliki manusia untuk mengubah watak keburukan, kejahatan, atau angkara murka mencapai kemuliaan.  Continue reading

Menelisik Ideologi Panunggalan

Seluruh ‘ngèlmu pangawikan’ (ilmu tentang teosofi) pada dasarnya bersifat universal.  Baik yang atas dasar ajaran agama maupun atas dasar filsafat hidup dan kepercayaan-kepercayaan.  Semua mengajarkan untuk menggapai kebahagiaan hidup manusia berdasarkan ‘kebenaran mutlak’ atau ‘kebenaran sejati’.  Paugêran urip atau hukum syariat menjalani hidup setiap komunitas manusia diturunkan dari ‘ngèlmu pangawikan’ yang dimiliki ‘tata peradaban’ komunitas manusia masing-masing. Continue reading

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 35 other followers